Asal Usul Pride Month di Bulan Juni

Pride Month Stonewall Riots

Pride Month selalu jatuh di bulan Juni setiap tahunnya. Berbagai kota di dunia diramaikan dengan parade, festival, diskusi komunitas, hingga kampanye di media sosial.

Kenapa Juni? Kenapa gak Januari atau bulan lainnya? Jawabannya balik ke satu malam panas di New York tahun 1969 silam.

Stonewall Riots

Pada akhir Juni 1969, Polisi menggerebek bar bernama Stonewall Inn di New York, Amerika Serikat. Sebuah bar yang biasa jadi tempat berkumpulnya komunitas LGBTQ+. Penggerebekan yang ‘biasa’ aja sebenernya, alias udah terjadi berkali-kali.

Bedanya, malam itu, para pengunjung memilih melawan. Gak mau terus-terusan pasrah dengan diskriminasi yang mereka alami.

Bentrokan Polisi dan komunitas LGBTQ+ pun gak terhindarkan. Kerusuhan berlangsung berhari-hari. Ada gas air mata, bom molotov, dan kekacauan di jalanan.

Peristiwa ini lantas dikenal dengan nama Stonewall Riots. Peristiwa ini juga yang jadi salah satu titik balik paling penting dalam sejarah perjuangan hak-hak LGBTQ+.

Karena itulah, setiap bulan Juni diperingati sebagai Pride Month untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut sekaligus merayakan keberagaman dan anti-diskriminasi.

Pink triangle

Sebenarnya, perjuangan menyuarakan hak-hak LGBTQ+ udah dilakukan jauh sebelum Stonewall Riots. Kejadian di New York lebih pada momen yang membuat gerakan perjuangan tersebut jadi lebih dilihat dunia.

Di Jerman misalnya, pada awal 1900an, Magnus Hirschfeld mendirikan organisasi hak-hak gay di Berlin. Dia bahkan bikin film yang menentang hukum anti-homosexuality sebelum kemudian Nazi menghancurkan institusi risetnya.

Nazi juga memaksa kaum homoseksual memakai segitiga merah muda (pink triangle) di kamp konsentrasi. Simbol yang kini justru jadi lambang kebanggaan kaum LGBTQ+.

Baca juga: Kazakhstan Persempit Ruang Bicara LGBTQ+

Perjuangan berlanjut

Sejak Stonewall Riots, gerakan memperjuangkan hak-hak LGBTQ+ semakin menjamur. Setiap memasuki bulan Juni, banyak negara di dunia sudah secara terbuka menggelar event-event untuk mempromosikan gerakan ini.

Perjuangan yang pelan-pelan membuahkan hasil. Tahun 1970, Gay Liberation Front lahir di London. Empat tahun sejak Stonewall Riots, American Psychiatric Association resmi menghapus homoseksualitas dari daftar gangguan mental. Big deal banget kala itu.

Lalu, sejak 2018, India udah gak mengkriminalisasi lagi hubungan sesama jenis. Di Brazil, pemerintah memperkuat perlindungan terkait diskriminasi yang berbasis orientasi seksual.

Sementara itu, Prancis bahkan menamai salah satu ruang publiknya ‘Place des Émeutes-de-Stonewall’ dalam rangka menghormati perjuangan kaum LGBTQ+.

Place des Émeutes-de-Stonewall
Foto: Anne Hidalgo/Facebook via CNN

Same sex marriage

Memperjuangkan hak-hak LGBTQ+ gak lepas dari perjuangan melegalkan pernikahan sesama jenis. Berdasarkan data Pew Research Center per awal 2025, udah 38 negara yang melegalkannya, kebanyakan di Eropa dan Amerika.

Belanda jadi yang pertama di 2001. Di Asia sendiri, baru tiga negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis: Taiwan, Nepal, dan Thailand.

Penutup

Ada 64 negara yang masih mengkriminalisasi hubungan sesama jenis (meskipun hubungan itu atas consent dari kedua belah pihak). Bukan angka yang sedikit. Bagi kaum LGBTQ+, tentu perjuangan masih jauh dari selesai.

Happy Pride Month untuk yang merayakan!

 

Sumber: World Economic Forum & Pew Research Center

 

Terima kasih banyak sudah membaca artikelnya sampai ujung. Jika merasa isinya bermanfaat, silakan di-share ya. Sebaliknya, jika ada yang kurang berkenan atau ada kesalahan informasi, silakan hubungi email atau sosial media tertera.

Share the Article: