Sejak kecil, Alice Lovatt udah dikenal sebagai ‘si tukang telat’. Datang ke sekolah di injury time, janji sama temen molor terus, pokoknya gak pernah on-time.
Apa Alice sengaja? Ternyata nggak. Dia merasa bersalah kenapa telat mulu. Dia pun mempertanyakan kebiasaannya itu. Kok seolah-olah dia gak punya ‘jam’ di kepalanya.
Sampai akhirnya, musisi asal Inggris itu didiagnosis ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) di usia 22 tahun. Di momen inilah, Alice mengenal istilah time blindness – kondisi di mana seseorang kesulitan merasakan dan memperkirakan waktu. Time blindness gak cuma masalah lupa ‘jam berapa’, juga bikin kita gak tau udah berapa lama satu moment berlangsung.
Menurut Stephanie Sarkis, seorang psikoterapis dari Florida, kondisi ini berkaitan dengan fungsi eksekutif yang berlangsung di lobus frontal otak dan merupakan karakteristik yang lekat dengan orang terdiagnosis ADHD. Namun, Sarkis menegaskan bahwa gak semua orang ‘hobi’ telat pasti mengidap ADHD. Bisa juga karena alasan-alasan lain.
Belakangan, terjadi perdebatan juga di media sosial soal time blindness ini. Sebagian mempertanyakan, jangan-jangan ini cuma excuse buat nutupin kebiasaan buruk.
Baca juga: Selingkuh Adalah Pilihan?
Seorang terapis, Jeffrey Meltzer, mendorong agar ‘si sering telat’ menelusuri akar masalah di balik kebiasaan mereka tersebut. Meltzer bilang ada kasus di mana seseorang sengaja telat karena gak suka terlibat obrolan basa basi sebelum acara mulai, biasanya dia akan ngerasa stress di situasi tersebut.
Kembali ke Sarkis, Sarkis menyarankan Alice (dan orang-orang dengan diagnosa yang sama) untuk menggunakan smartwatch dan gak terlalu bergantung pada ponsel yang justru keseringan banyak distraksi-nya.
Dia juga menganjurkan agar tugas-tugas dipecah menjadi lebih rinci serta menghindari menumpuk banyak agenda di satu hari yang sama.
Kasus Alice ini mengajarkan kita tentang alasan di balik kebiasaan telat. Rupanya ada cerita yang lebih kompleks di belakangnya dari sekedar ‘gak disiplin’. Dengan memahami ini, semoga kita bisa jadi pribadi lebih baik dengan selalu melihat sisi lain dari apapun yang terjadi.
Sumber artikel: globalnews.ca
Terima kasih banyak sudah membaca artikelnya sampai ujung. Jika merasa isinya bermanfaat, silakan di-share ya. Sebaliknya, jika ada yang kurang berkenan atau ada kesalahan informasi, silakan hubungi email atau sosial media tertera.